You Will Never Walk Alone

Saya bukan mau cerita tentang Liverpool. Lagu YNWA memang identik dengan Liverpool, tapi saya bukan fans-nya, ngerti bola aja enggak, hehee. Setelah selesai menulis note ini, saya bingung mau ngasih judul apa. Kebiasaan menentukan judul di akhir. Karena salah satu grup di WhatsApp saya sedang ramai membicarakan bola waktu itu, jadilah saya terinspirasi memberikan judul note ini dengan judul lagu kebangsaan Liverpool. Semoga nyambung dengan isinya. Kalau ga nyambung? yaahhh disambung-sambungin aja dah…hehee

Ini kali pertama saya pulang ke karawang itu…sesssuuuuaaatuuu…

Bukan karena bareng syahrini, bukan, hee

Tapi karena butuh perjuangan sekali (drama banget yaa..). Begini ceritanya…

Sudah hampir dua jam saya menunggu bis ke karawang di pasar rebo, tapi hanya ada dua bis Agra Mas ke karawang yang lewat, itupun setelah saya kejar ternyata penuh sesak. Kondekturpun tidak mengizinkan saya untuk masuk karena sudah overload disesaki penumpang-penumpang yang berdiri hingga pintu bis. Mungkin ini dikarenakan besoknya, 1 April 2013 adalah hari pertama masuk setelah long weekend, banyak karyawan-karyawan yang “arus balik” ke Karawang. Maklumlah Karawang yang sekarang bukan lagi lumbung padi melainkan lumbung industri. Sawah-sawah banyak ditanami gedung-gedung pabrik, pertokoan, dan perumahan. Atau mungkin karena ada beberapa armada bis ke karawang yang tidak beroperasi? entahlah.

Untungnya saya ga sendirian, Alhamdulillaah…ada juga yang senasib ternyata, mba-mba 1 orang dan mas-mas 3 orang. Setelah ngobrol-ngobrol akhirnya kami bersepakat untuk naik bis jurusan apapun yang melewati tol karawang barat, karena waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. Naiklah kami ke bis Primajasa jurusan Bandung. Awalnya saya mengira bis ini akan berhenti sebentar di terminal Klari, Karawang, berdasarkan pengalaman saya sebelumnya waktu ke Bandung naik bis ini di terminal Klari. Dengan persuasifnya saya meyakinkan mba dan mas-mas ini, dan mereka pun percaya. Dan ini akan mereka sesali di kemudian hari karena telah percaya pada ‘kesotoyan’ saya. Ternyata eh ternyata kondektur bilang kalau bis ini ga berhenti di terminal Klari, “lewat tol terus neng”.

O.o.w…Astaghfirulloh!!! saya baru inget waktu itu saya ke Bandung memang naik bis Primajasa tapi yang jurusan Cikarang-Bandung yang memang rutenya lewat terminal Klari, bukan Rambutan-Bandung. Well…let’s continue this journey. Nasi sudah menjadi bubur, mari kita jadikan bubur ini spesial pake ati ampela, lho?! Hee…Saya cuma bisa nyengir garing dan minta maaf ke mba dan mas-mas ini karena itu artinya kita akan diturunkan di tengah-tengah tol dan manjat pembatas tol Karawang Barat. Saya agak khawatir dengan mba yang satu ini (saya lupa namanya, salah satu kelemahan saya adalah susah mengingat nama orang) kalo harus ‘jurit malam’ di tengah tol, karena dari penampilan beliau terlihat feminin dengan baju terusan semacam gamis warna pink baby senada dengan kerudungnya. Eitsss, ternyata saya salah -don’t judge si mba by her clothes- setelah ngobrol-ngobrol ternyata beliau seorang quantity engineer yang bekerja di perusahaan kontraktor yang terbiasa bekerja di lapangan. Dan saat ini dia dan timnya sedang menangani proyek pembangunan pabrik di kawasan industri surya cipta Karawang. Sepanjang perjalanan kami ngobrol banyak tentang keluarga, sekolah, dan pekerjaan, mendadak saya kangen sekali dengan pekerjaan saya dulu, ingin sekali bekerja lagi, terutama sih kumpul-kumpul dengan teman kantornya itu lho. Hee..ma’lumlah sudah setahun ini saya tidak bekerja di industri.

Jam 21.30 officially kami diturunkan di tengah tol Karawang Barat, tepatnya kawasan industri KIIC. Dengan penerangan jalan seadanya kami berlima berjalan di pinggiran jalan tol yang lumayan sepi. Sambil berjalan saya terus menerus berdo’a.
Setelah berjalan sebentar, kamipun harus sedikit “mendaki” tanah berumput karena posisi jalan tol menuju KIIC berada lebih atas, dan harus melewati besi pembatas jalan tol. Hufffthhh…

Setelah masuk kawasan KIIC, kamipun harus berjalan sampai menemukan angkot. Sebenarnya ada ojeg, tapi karena jaraknya kagok, kamipun memutuskan untuk berjalan, itung-itung olahraga malam. Hosh..hosh..lumayan jauh juga ternyata, ditambah laptop di punggung, tentengan yang lumayan berat di tangan, lengkaplah sudah penderitaanku, huhuhuuu. Tapi karena sepanjang jalan kami ngobrol-ngobrol, lumayan melupakan sejenak beban hidup ini. (hadeuh…lebay banget ya, hee). Kami berlimapun langsung akrab, karena mungkin merasa senasib sepenanggungan. Sambil berjalan, saya berusaha menelpon orang rumah, untuk menjemput, tapi malang nian nasib awak ini, orang rumah sepertinya sudah tertidur lelap, hiks…

Kejutan kedua setelah kami diturunkan di tengah tol adalah…sudah tidak ada angkot yang beroperasi dari pintu tol karawang barat ke arah rumah saya di Johar, karena mungkin sudah malam. Subhanalloh…

Banyak ojeg sebenarnya disitu yang siap sedia mengantar, tapi saya agak worry gimana gitu…saya masih berusaha menelpon orang rumah, tapi hasilnya nihil.

yasudahlah ga ada pilihan lain, saya harus naek ojeg. Tapi  yang jadi masalah sekarang adalah uang saya tidak cukup untuk membayar ojeg 20 ribu, dan kartu atm saya pun beberapa hari kemarin hilang dan belum sempat diurus. Baiklah, Bismillaah…yang penting naek dulu, urusan bayar nanti pas nyampe rumah. Kami berlimapun berpisah, setelah ber-say good bye.

Alhamdulillaah Yaa Alloh…Finally…nyampe juga di rumah, 10.00 pm angka yang saya liat di HP.

“lho teteh jadi uih ayeuna?” sambil ngucek2 mata.

“muhun mah” cium tangan mamah.

Dan sederet pertanyaan lainnya…kekhawatiran yang wajar dari seorang ibu.

Kemudian sayapun mandi, sholat, dan akhirnya tepar deh…setelah beraktivitas dari pagi sampe sore (semoga diridhoi Alloh), malamnya ditutup dengan perjalanan yang luar biasa. Tapi InsyaAlloh setiap kejadian, perjalanan, pasti ada hikmahnya.

Perjalanan yang saya ceritakan di atas tadi ga ada apa-apanya dibanding perjalanan saya Juli 2012, ngebolang di negeri orang, sendirian, ketinggalan bis terakhir, dan bingung harus bermalam dimana…dan pastinya banyak banget hikmahnya.

Next note: Ngebolang di Paris.