being “the stable free radical”

“Ffiiuuhhh”
#tiup debu di lapak wordpress
Saking lamanya ini blog ga pernah ditengokin, ternyata udah banyak sarang laba-laba di pojokan..ckckck.

Kali ini entah kenapa pengen nulis tentang yang nyerempet nyerempet soal jodoh (tema sensitif, yang pembahasannya selalu ramai dan tak lekang oleh waktu), mungkin ini efek tiap buka facebook, notif yang muncul adalah wedding invitation baik dari senior, seangkatan maupun adik tingkat.

Galau??? Hmm…maybe yes maybe no.

Mungkin, bila diibaratkan senyawa kimia, orang yang masih single (baca: belum berpasangan) merupakan gugus atom yang memiliki elektron tak berpasangan atau biasa disebut radikal bebas. KEBANYAKAN radikal bebas berenergi tinggi, akibatnya tidak stabil dan sangat reaktif. Istilahnya anak zaman sekarang adalah labil.

Sedangkan orang yang sudah memiliki pasangan halalnya, berarti gugus atomnya (lebih tepatnya ion) telah memiliki elektron yang berpasangan. Biasanya senyawa seperti ini berenergi lebih rendah, akibatnya cenderung stabil. Hal ini senada dengan ungkapan bahwa dengan menikah, hati menjadi lebih tentram dan hidup lebih terorientasi. That’s the fact (kata temen yang udah nikah pastinya).

Mungkin tidak semua para single sependapat dengan pernyataan di atas, terlebih kaum urban pada umumnya.

“gue jomblo, tapi gue nyantai aja tuh”

“I am single and very happy”

Well, makanya saya meng-caps lock kata “KEBANYAKAN” di atas. Karena memang tidak semua yang jomblo itu ngegalau.

 

Saya jadi teringat mata kuliah bioassay di awal-awal semester mengenai pengujian senyawa-senyawa antioksidan. Ada suatu reagent radical scavenger (penangkap radikal) yaitu DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). Continue reading

Ngebolang di Paris (Part 2)

“Ok,ok, tenaaang ela” saya berusaha menenangkan diri sendiri.

“Robishshrohlii shodrii wayassirlii amrii wahlul ‘uqdatan min lisanii yafqohuu qaulii…Dulu nabi Musa baca do’a ini pas ngadepin Fir’aun, masa ela cuma ngadepin kaya gini ga bisaaa” ngomong sendiri sambil mikir.

Saya coba lihat bus timetable yang di tempel di papan. Ternyata pemberangkatan bis pertama untuk besok paginya adalah jam 5.45 am untuk jadwal flight jam 8.45. Alhamdulillaah Yaa Alloh…tapi masalahnya adalah…tidur dimana malam ini? Karena saya merencanakan bermalam di Hostel di daerah Beauvais bukan di Paris, makanya saya ga searching hostel yang lokasinya deket-deket daerah sini, porte maillot.

Tak lama datanglah seorang ibu dan 2 anaknya perempuan, mungkin seusia saya. Ketiganya orang Spanyol. Dan ternyata bernasib sama dengan saya, ketinggalan bis.

Kami sempat berdiskusi apakah kita naik taxi saja bareng-bareng dan patungan ongkos, atau bagaimana…dan malangnya nasibkuuuu, mereka memutuskan untuk kembali ke hotel (bukan hostel yaa..tapi hotel) mereka dekat situ dan berangkat besok pagi ke Bandara Beauvais. Jelas bukan budget saya kalaupun harus menginap di hotel yang sama dengan mereka. Dan mereka pun tidak tahu dimana hostel terdekat yang murah.

Saya bingung luar biasa…

”gimana ini yaa Alloh?” ucap saya dalam hati Continue reading

Ngebolang di Paris (Part 1)

Sore menjelang malam tanggal 16 Juli 2012. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.15 pm waktu Utrecht, Belanda. Saya sudah bersiap-siap menunggu bis Eurolines yang akan mengantarkan saya ke Paris, Perancis pukul 10.45 pm di CS Jaarbeurspl Eurolines Halte Utrecht. Karena waktu itu sedang musim panas dan matahari bersinar lebih panjang daripada biasanya, maka pukul 10.00 pm itu sang surya baru saja tenggelam, menandakan waktu maghrib telah tiba. Saya sudah mengambil wudhu untuk persiapan sholat di bis. Menurut cerita beberapa kawan, summer di Belanda is not like a real summer, cuacanya unpredictable, seperti yang terjadi sore itu gerimis dan angin yang menusuk pori menemani saya menanti kedatangan bis. Selain saya, ada juga 1 orang berwajah Asia, laki-laki, seumuran saya. Eh dia senyum, saya tengok kiri kanan, takut ke-GR-an, hee..kali aja dia senyum ke orang lain. Ehh..bener ko, buktinya abis senyum dia nyapa saya. Ohh ternyata dia mendapatkan gen dominan dari ibunya yang seorang Filipino dan gen resesif dari ayahnya orang Prague, Czech Republic. Sore itu dia akan pulang ke Prague. Kemudian dia ber-say good bye karena bisnya datang duluan.

Beberapa menit berikutnya bis saya pun datang. Alhamdulillaah bisnya nyaman dan banyak kursi yang masih kosong, setelah menjamak sholat maghrib dan isya, sayapun berusaha untuk tidur. Saat summer, jarak antara Isya dan Shubuh itu sangat berdekatan, baru aja sholat isya jam 12an eh jam 3an udah datang waktu shubuh.

Eurolines bus

Eurolines bus

Jam 6, sesuai yang dijadwalkan tibalah kami di International Bus Station Gallieni, Paris, yang terhubung langsung dengan jalur Métro de Paris yaitu jalur transportasi subway/bawah tanahnya Paris. Sesampainya saya di underground, saya cukup terkesan (norak sih lebih tepatnya, hehee) dengan hasil karya orang Perancis ini yang resmi dibuka pada tahun1990. Kapaaan ya Jakarta bisa kayak gini juga, biar ga macet. Semoga bisa.

Oiya pada saat berjalan dari stasiun bis tadi ke metro, saya tidak sengaja bertemu dengan beberapa orang Indonesia, 2 orang mahasiswi FE UI bersama ibu dan tantenya, yang memang sengaja datang ke Paris dan kota-kota di negara lainnya di Eropa untuk traveling. Terlihat dari cara berpakaiannya mereka termasuk high class namun sikapnya tetap low profile. Dan mereka sangat kaget ketika tau kalau saya sendirian dan ini kali pertama saya ke Eropa.

Ibu: “kamu gapapa sendirian? Beranian”
Saya: ”hee…diberani-beraniin aja bu, pengenya sih banyakan sama keluarga kayak ibu” sambil senyum

Begini kawan historinya: Continue reading

You Will Never Walk Alone

Saya bukan mau cerita tentang Liverpool. Lagu YNWA memang identik dengan Liverpool, tapi saya bukan fans-nya, ngerti bola aja enggak, hehee. Setelah selesai menulis note ini, saya bingung mau ngasih judul apa. Kebiasaan menentukan judul di akhir. Karena salah satu grup di WhatsApp saya sedang ramai membicarakan bola waktu itu, jadilah saya terinspirasi memberikan judul note ini dengan judul lagu kebangsaan Liverpool. Semoga nyambung dengan isinya. Kalau ga nyambung? yaahhh disambung-sambungin aja dah…hehee

Ini kali pertama saya pulang ke karawang itu…sesssuuuuaaatuuu…

Bukan karena bareng syahrini, bukan, hee

Tapi karena butuh perjuangan sekali (drama banget yaa..). Begini ceritanya…

Sudah hampir dua jam saya menunggu bis ke karawang di pasar rebo, tapi hanya ada dua bis Agra Mas ke karawang yang lewat, itupun setelah saya kejar ternyata penuh sesak. Kondekturpun tidak mengizinkan saya untuk masuk karena sudah overload disesaki penumpang-penumpang yang berdiri hingga pintu bis. Mungkin ini dikarenakan besoknya, 1 April 2013 adalah hari pertama masuk setelah long weekend, banyak karyawan-karyawan yang “arus balik” ke Karawang. Maklumlah Karawang yang sekarang bukan lagi lumbung padi melainkan lumbung industri. Sawah-sawah banyak ditanami gedung-gedung pabrik, pertokoan, dan perumahan. Atau mungkin karena ada beberapa armada bis ke karawang yang tidak beroperasi? entahlah.

Untungnya saya ga sendirian, Alhamdulillaah…ada juga yang senasib ternyata, mba-mba 1 orang dan mas-mas 3 orang. Setelah ngobrol-ngobrol akhirnya kami bersepakat untuk naik bis jurusan apapun yang melewati tol karawang barat, karena waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. Naiklah kami ke bis Primajasa jurusan Bandung. Awalnya saya mengira bis ini akan berhenti sebentar di terminal Klari, Karawang, berdasarkan pengalaman saya sebelumnya waktu ke Bandung naik bis ini di terminal Klari. Dengan persuasifnya saya meyakinkan mba dan mas-mas ini, dan mereka pun percaya. Dan ini akan mereka sesali di kemudian hari karena telah percaya pada ‘kesotoyan’ saya. Ternyata eh ternyata kondektur bilang kalau bis ini ga berhenti di terminal Klari, “lewat tol terus neng”.

O.o.w…Astaghfirulloh!!! saya baru inget waktu itu saya ke Bandung memang naik bis Primajasa tapi yang jurusan Cikarang-Bandung yang memang rutenya lewat terminal Klari, bukan Rambutan-Bandung. Well…let’s continue this journey. Nasi sudah menjadi bubur, mari kita jadikan bubur ini spesial pake ati ampela, lho?! Hee…Saya cuma bisa nyengir garing dan minta maaf ke mba dan mas-mas ini karena itu artinya kita akan diturunkan di tengah-tengah tol dan manjat pembatas tol Karawang Barat. Saya agak khawatir dengan mba yang satu ini (saya lupa namanya, salah satu kelemahan saya adalah susah mengingat nama orang) kalo harus ‘jurit malam’ di tengah tol, karena dari penampilan beliau terlihat feminin dengan baju terusan semacam gamis warna pink baby senada dengan kerudungnya. Eitsss, ternyata saya salah -don’t judge si mba by her clothes- setelah ngobrol-ngobrol ternyata beliau seorang quantity engineer yang bekerja di perusahaan kontraktor yang terbiasa bekerja di lapangan. Dan saat ini dia dan timnya sedang menangani proyek pembangunan pabrik di kawasan industri surya cipta Karawang. Sepanjang perjalanan kami ngobrol banyak tentang keluarga, sekolah, dan pekerjaan, mendadak saya kangen sekali dengan pekerjaan saya dulu, ingin sekali bekerja lagi, terutama sih kumpul-kumpul dengan teman kantornya itu lho. Hee..ma’lumlah sudah setahun ini saya tidak bekerja di industri.

Jam 21.30 officially kami diturunkan di tengah tol Karawang Barat, tepatnya kawasan industri KIIC. Dengan penerangan jalan seadanya kami berlima berjalan di pinggiran jalan tol yang lumayan sepi. Sambil berjalan saya terus menerus berdo’a.
Setelah berjalan sebentar, kamipun harus sedikit “mendaki” tanah berumput karena posisi jalan tol menuju KIIC berada lebih atas, dan harus melewati besi pembatas jalan tol. Hufffthhh…

Setelah masuk kawasan KIIC, kamipun harus berjalan sampai menemukan angkot. Sebenarnya ada ojeg, tapi karena jaraknya kagok, kamipun memutuskan untuk berjalan, itung-itung olahraga malam. Hosh..hosh..lumayan jauh juga ternyata, ditambah laptop di punggung, tentengan yang lumayan berat di tangan, lengkaplah sudah penderitaanku, huhuhuuu. Tapi karena sepanjang jalan kami ngobrol-ngobrol, lumayan melupakan sejenak beban hidup ini. (hadeuh…lebay banget ya, hee). Kami berlimapun langsung akrab, karena mungkin merasa senasib sepenanggungan. Sambil berjalan, saya berusaha menelpon orang rumah, untuk menjemput, tapi malang nian nasib awak ini, orang rumah sepertinya sudah tertidur lelap, hiks…

Kejutan kedua setelah kami diturunkan di tengah tol adalah…sudah tidak ada angkot yang beroperasi dari pintu tol karawang barat ke arah rumah saya di Johar, karena mungkin sudah malam. Subhanalloh…

Banyak ojeg sebenarnya disitu yang siap sedia mengantar, tapi saya agak worry gimana gitu…saya masih berusaha menelpon orang rumah, tapi hasilnya nihil.

yasudahlah ga ada pilihan lain, saya harus naek ojeg. Tapi  yang jadi masalah sekarang adalah uang saya tidak cukup untuk membayar ojeg 20 ribu, dan kartu atm saya pun beberapa hari kemarin hilang dan belum sempat diurus. Baiklah, Bismillaah…yang penting naek dulu, urusan bayar nanti pas nyampe rumah. Kami berlimapun berpisah, setelah ber-say good bye.

Alhamdulillaah Yaa Alloh…Finally…nyampe juga di rumah, 10.00 pm angka yang saya liat di HP.

“lho teteh jadi uih ayeuna?” sambil ngucek2 mata.

“muhun mah” cium tangan mamah.

Dan sederet pertanyaan lainnya…kekhawatiran yang wajar dari seorang ibu.

Kemudian sayapun mandi, sholat, dan akhirnya tepar deh…setelah beraktivitas dari pagi sampe sore (semoga diridhoi Alloh), malamnya ditutup dengan perjalanan yang luar biasa. Tapi InsyaAlloh setiap kejadian, perjalanan, pasti ada hikmahnya.

Perjalanan yang saya ceritakan di atas tadi ga ada apa-apanya dibanding perjalanan saya Juli 2012, ngebolang di negeri orang, sendirian, ketinggalan bis terakhir, dan bingung harus bermalam dimana…dan pastinya banyak banget hikmahnya.

Next note: Ngebolang di Paris.