Hold it a moment to flashback, Pick up the lesson learnt, then Continue your way

“Pa, kayanya aku makin yakin deh buat resign”

“Nah gitu dong..di sini lu ga kan berkembang la, di sini tempatnya buat belajar”

“Iya pa..bapak jg udah tau kan aku butuh salary yang lebih tinggi buat bantuin bapakku”

“iya..lagian lu sekarang kan udah lulus S1-nya, carilah posisi dan gaji yg lebih baik”

“tapi aku udah ngerasa nyaman banget pa disini, sama orang-orangnya”

“yaelah..gampang nti kalo lu mo ketemu ma gw sih”

“yeehhh…bkn sama bpk doang kaleee” 😛

“itu sih gampang la, kalo lu kangen, maen-maen lah ke sini”

“masalahnya sekarang aku belum juga dapet panggilan interview di daerah karawang pa, dapetnya di jakarta mulu niy, ada sih di Karawang, aku ditawarin ngajar, tapi…”

“lu sih banyak maunya, pengen dapet posisi sesuai, gaji gede, penempatan di Karawang”

“ya kalo aku ga dapet posisi yang sesuai, aku kerjanya jg ga nyaman ga sesuai bidangku..kalo aku ga dapet salary yang lumayan gimana aku mau bantuin bapakku, trus kalo aku ga dapet di karawang, gimana aku mo bantuin mamahku, tau sendiri bapak semenjak usaha bapakku turun, mamah harus bantuin bapak di kios, jadinys di rumah…ade-adeku…ya begitu jadinya”

“iya gw tau…sekarang mah gini aja, lu ambil tawaran buat ngajar di karawang, bantuin orangtua, ade-ade lu…insyaAllah la kalo niatnya berbuat baik ma orang tua mah berkah. Lu jangan terpaku sama rencana-rencana lu, lu lupa ada Allah yang punya rencana lebih baik. Gw yakin lu lebih ngerti lah yang kaya beginian dibanding gw. Oiya ada satu lagi, lu pending dulu lah keinginan lu buat kuliah S2…mendingan merit dulu”

“yeehh..dari dulu jg pengennya begitu pa, istilahnya mah meraih cita dalam cinta” Continue reading

Mimpi Hari ini Kenyataan Hari Esok

Sepanjang perjalanan menuju summer housenya Om Richard dan Tante Betty tak henti-hentinya kami menoleh ke kanan dan kiri jalan. Melihat kenorakan kami :-), Om dan Tante pun seakan mengetahui pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak kami, kemudian tante dan om pun dengan senang hati menjelaskan ini gedung apa, itu arah menuju mana, etc.

Tak terasa sampailah kami di De Federatie (kalau di Indonesia semacam kompleks perumahan, tapi ditempati pada saat musim panas saja). Kedatangan kami disambut oleh udara yang sejuk bebas polusi, sungai yang bersih dihiasi tempat duduk yang nyaman dipinggirnya, bebek-bebek berenang, taman-taman yang cantik, jalanan yang bersih, pepohonan hijau berdaun kecil yang rindang, rumah-rumah yang mungil dan cantik. Berada disini membuatku merasa menjadi alice in wonderland.

Image

ImageImageImage

Summer housenya Om dan Tante tak kalah cantiknya dari rumah-rumah yang lainnya, taman yang dihiasi bunga-bunga dan kolam ikan. Setelah beristirahat sejenak dan menikmati es campur buatannya tante, kami diantar ke stasiun Amsterdam Amstel untuk menaiki kereta tujuan Utrecht Centraal. Tak lupa kami ucapkan bedankt kepada Om dan Tante yang telah bersedia direpotkan oleh kami, lalu kamipun berpamitan.

Image

Image

 

Langit Utrecht yang mendung menyambut kedatangan kami. Kami memutuskan untuk berjalan dari stasiun Utrecht Centraal ke Utrecht Summer School (USS) Office di Janskerkhof, karena berdasarkan informasi yang kami peroleh dari predeparture information dari Utrecht Centraal ke USS office dapat ditempuh dengan berjalan kaki dengan waktu yang sebentar. Setelah berjalan kaki cukup lama tak kami temukan juga USS office. Bisa jadi “waktu yang sebentar” itu bagi bule yang memiliki langkah kaki yang lebar dan cepat, bukan untuk kita-kita ini, hehheee…

Bangunan yang mirip satu sama lain –bergaya baroque-, fisik kami yang –bukan lumayan lagi- lelah ditambah gerimis membuat kami tidak fokus membaca peta. Padahal setelah saya amati keesokan harinya saat berangkat kuliah, nama jalan dan petunjuk jalan lainnya terpampang dengan jelas sesuai dengan yang di peta.

Haduuuhhh rasanya kaki ini sudah tidak kuat lagi melangkah, but when we almost totally desperate, tiba-tiba seorang wanita menyapa kami Continue reading

AYAH JUARA 1

-repost from my fb notes-

Senin, 11 April 2011. Aku hanya bisa mengucapkan salam sambil menyium tanganmu -yang tak segagah dulu tapi sangat kuat untuk melindungi kami, keluargamu-  saat kau mengantarkanku pagi itu hingga menaiki bis untuk kembali bekerja. Aku tak ingin berlama-lama di saat-saat seperti itu, bukan, bukan karena aku tak rindu padamu ayah, tapi aku tak ingin menumpahkan air mata ini dihadapanmu.

Pecah juga akhirnya tangisku, tak peduli dengan penumpang di bis, toh kebanyakan merekapun sedang tertidur…tiap kali akan berpisah denganmu, tanpa kau tahu, aku selalu menitikkan air mata. Iya, memang, aku masih seperti yang dulu, gadis kecilmu yang cengeng. Tapi, tangis kali ini lain, sangat pedih.

Engkau memang Ayah juara 1 di dunia buatku, tak berlebihan rasanya. seberat apapun ujian hidup yang Alloh anugerahkan tak pernah engkau keluhkan dihadapan kami anak-anakmu. Sebulan yang lalu saat kutahu “ada yang tidak beres” dengan kondisi perekonomian di rumah (itupun aku tahu dari bibi a.k.a tante, karena kutahu kau tak kan pernah mau bilang). Kau hanya mengatakan: “InsyaAlloh setiap orang ada rizkinya, dan ga mungkin kondisi kita kaya gini terus, ada saatnya di bawah ada saatnya di atas” dengan santainya. Subhanalloh, kau motivator sejati.

Ternyata kali ini pun sama, tak ada perubahan, kulihat malah semakin terpuruk keadaannya. Tapi selalu saja enggan kau tunjukkan. Seperti biasa, setiap kali kepulanganku, kita selalu bergadang hingga larut untuk saling berbagi cerita. Padahal sebelum azan subuh berkumandang, kau harus sudah pergi menjemput rizki. Aku lebih banyak mendengar kali ini, “Teteh ga usah khawatir, kalo ga dapet beasiswa, bapak masih punya tanah buat teteh kuliah S2 tahun ini”. Mohon maaf ayah, aku tidak bisa. Itu terlalu membebanimu. Apapun kebaikan yang engkau pinta, aku berusaha untuk bisa mewujudkannya tapi kali ini mohon maaf. Kau masih ingat? menjelang kelulusan SMA, kau sangat ingin aku masuk Akpol. Meskipun dengan berat hati aku turuti, bagaimana tidak, saat teman-temanku yang lain sibuk dengan tryout UMPTN agar masuk universitas2 paporit (ups, favorit maksudnya, hehee) aku harus berlatih fisik, skipping, lari mengelilingi stadion singaperbangsa, karate (meskipun cuma sampe sabuk kuning, sekarangpun sudah lupa ^^) bahkan sampai konsul ke dokter untuk menaikkan berat dan tinggi badan ^^. Tapi karena kau ayah yang bijak, akhirnya kau menyerah juga dan membiarkanku kuliah…yes!

Aku belajar kegigihan berjuangpun darimu, aku ingin kuliah S2 dengan mendapatkan beasiswa full keluar negeri, tidak terfikir untuk meminta darimu. Pernah aku membayangkan kau dan ibu datang saat aku wisuda nanti, hmmm terharunya… Apakah nanti kau akan menangis saat memelukku seperti pertama kali aku diwisuda saat D3? Belakangan kutahu dari ibu kalau kau menangis sejak memasuki gedung. Kau sangat bahagia bisa menyekolahkanku sampai tahap tersebut, karena kau tidak pernah sama sekali merasakan bangku kuliah apalagi memakai toga. Jadi geli sendiri kalau ingat kejadian saat aku menunjukkan IP semester pertama, kau dengan raut muka agak kesal Continue reading

Impian semakin dekat dengan kita

-repost from my fb notes-

 

“Impian semakin dekat dengan kita!”
Kata2 yang cukup menyemangati -lebih tepatnya mencoba menguatkan hati kita- terucap kala esok tak lagi bertatap muka sesering biasanya…
Setelah kau beranjak pergi… hatiku dingin, pipiku basah

Impian memang semakin dekat, namun semakin terjal
Wajar… semakin dekat dengan puncak semakin sulit medan yang ditempuh (mencoba menghibur…)

Semakin berat bagiku karena tidak akan sesering biasanya kita saling berbagi semangat, keceriaan, keluhan, hikmah hidup, kekonyolan, luapan ekspresi, dan entah apalagi karena terlalu banyak…
Semoga tidak akan mengurangi sedikitpun ukhuwah diantara kita…

Saudariku yang dicintai Alloh… Continue reading