Surat Cinta untuk Emirza

Dalam hitungan kalender masehi, hari ini, 13 september 2015, alhamdulillaah usiamu genap 6 bulan sayang..there was a lot of stories in raising you for this 6 months, need days to write it all, so disini bunda hanya menuliskan sebagiannya saja.

Kebahagian yang tidak terkira saat mengetahui kau mulai hadir dalam rahim bunda, nak. Sekaligus alarm buat bunda agar lebih aware lagi dalam menjaga kehamilan bunda sekarang, karena sebelumnya di bulan maret 2014 bunda mengalami keguguran saat usia kandungan 5 minggu.

Bunda sangat menikmati masa-masa kebersamaan kita, meskipun di trimester awal hampir setiap hari mual dan muntah tapi bunda harus memaksakan diri makan agar engkau tidak kekurangan nutrisi, sayang. Masuk trimester kedua, saat ruh ditiupkan dan kau mulai bergerak gerak di dalam perut, bunda semakin penasaran sedang apa kau di dalam, seperti apa lucu dan menggemaskannya dirimu saat nanti kita bertemu. Di setiap ba’da sholat, ayah dan bunda selalu berdo’a untuk kebaikanmu sayang. Kami berharap kelak engkau akan menjadi anak yang sholih, penyejuk mata dan menjadi pemimpin orang-orang yang bertaqwa, aamiin.

Dibalik kebahagiaan yang tiada terkira itu, sebenarnya terbersit kekhawatiran yang besar di dalam hati ayah dan bunda, apakah kami kelak akan bisa menjaga dan mendidikmu, amanah yang Allah titipkan kepada kami. Amanah yang kelak akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat. Bunda jadi teringat kisah seorang ayah membawa anaknya mendatangi Umar bin Khattab r.a untuk mengadukan bahwa anak tersebut telah durhaka terhadapnya. Namun, ternyata orangtuanya lah yang tidak memenuhi hak-hak anak tersebut. Hak-hak anak yang harus dipenuhi orangtuanya adalah, (sebelum menikah) memilihkan calon ibu/ayah yang baik bagi anak tersebut, memberikan nama yang baik, dan mengajarkan Al-qur’an. Continue reading

Advertisements

Mencintai Sejantan Ali

Image

kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah,

maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya,

pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki:

selamanya memberi yang bisa kita berikan,

selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.

-M. Anis Matta-

 

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!

Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Disana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya. Continue reading