Ngebolang di Paris (Part 2)

“Ok,ok, tenaaang ela” saya berusaha menenangkan diri sendiri.

“Robishshrohlii shodrii wayassirlii amrii wahlul ‘uqdatan min lisanii yafqohuu qaulii…Dulu nabi Musa baca do’a ini pas ngadepin Fir’aun, masa ela cuma ngadepin kaya gini ga bisaaa” ngomong sendiri sambil mikir.

Saya coba lihat bus timetable yang di tempel di papan. Ternyata pemberangkatan bis pertama untuk besok paginya adalah jam 5.45 am untuk jadwal flight jam 8.45. Alhamdulillaah Yaa Alloh…tapi masalahnya adalah…tidur dimana malam ini? Karena saya merencanakan bermalam di Hostel di daerah Beauvais bukan di Paris, makanya saya ga searching hostel yang lokasinya deket-deket daerah sini, porte maillot.

Tak lama datanglah seorang ibu dan 2 anaknya perempuan, mungkin seusia saya. Ketiganya orang Spanyol. Dan ternyata bernasib sama dengan saya, ketinggalan bis.

Kami sempat berdiskusi apakah kita naik taxi saja bareng-bareng dan patungan ongkos, atau bagaimana…dan malangnya nasibkuuuu, mereka memutuskan untuk kembali ke hotel (bukan hostel yaa..tapi hotel) mereka dekat situ dan berangkat besok pagi ke Bandara Beauvais. Jelas bukan budget saya kalaupun harus menginap di hotel yang sama dengan mereka. Dan mereka pun tidak tahu dimana hostel terdekat yang murah.

Saya bingung luar biasa…

”gimana ini yaa Alloh?” ucap saya dalam hati

“Oiya!!! Icha!!! Eh…tapi dia kan lagi ga ada di sini” Marisa yang akrab dipanggil Icha ini adalah teman SMA saya, dan sempat kuliah bareng di AKA Bogor kemudian berhenti dan melanjutkan study ke Paris. Sebelum berangkat saya banyak bertanya tentang paris ke Icha, dan sayangnya saat saya di Paris, dia sedang summer job di Swiss. Hmm…gimana ini!

Saya mondar mandir kayak setrikaan di halte yang sudah sepi saat itu.

Saya liat HP, “oiya, knp ga searching aja di internet?” but, Damn!!! Saya masih pake no Belanda. Kalaupun dipaksakan connect ke internet paling langsung habis karena roaming. Now I’m totally desperate!

Akhirnya saya pasrah sepasrah-pasrahnya…

“Laa haulaa walaa kuwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim” pengen nangis rasanya…

Dengan langkah gontai saya pergi meninggalkan halte. Berjalan tak tentu arah. Saya coba nanya ke beberapa orang yang kebetulan berpapasan dengan saya, sayangnya mereka tidak tahu dimana hostel yang murah dan deket situ. Hwwwaaaaaaaaaa….

Saya lihat diseberang jalan ada pak polisi separuh baya. Saya bergegas menyebrang kemudian menyapanya.

“Bonjour, maaf pak, saya ga bisa ngomong bahasa perancis” saya menginformasikan ke polisi tersebut dalam bahasa inggris.

“Iya gapapa…ada yang bisa saya bantu?” jawabnya dalam bahasa inggris sambil tersenyum.

Kemudian saya ceritakan bahwa saya ketinggalan bis, dan sedang mencari hostel terdekat dan murah.

“Ada budget berapa?” tanya pak polisi.

“20-30 euro” jawab saya dengan polosnya, meskipun saya yakin susah mencari hostel dengan budget segitu di Paris.

Polisi itu hanya tersenyum. Mungkin arti senyumannya begini: ”Helllooowww…ini Paris, ga ada yang murah disini”.

Di dalam hati saya: “saya tahu ko pak…mau pipis aja harus bayar 1 euro. Tadi siang saya makan waffle yang cuma taburan gula halus yang ga kenyang sama sekali (ma’lum perut Indonesia, ga cocok makan siang sama roti) harganya 2,5 euro alias 30 ribu.

Kemudian pak polisi bilang: “ada yang paling dekat dari sini harganya minimal 50 euro dengan service yang sangat minim, ada yang lebih murah tapi lumayan jauh dari sini. Sedangkan besok kamu harus kesini lagi jam 5 dan belum ada bis dari hostel tersebut kesini.”

Mukaku semakin memelas. Tertunduk pasrah.

“Hmm…ok, mari ikut saya” ajak pak polisi.

 

Kamipun masuk ke sebuah toko waralaba, menemui pemiliknya yang berwajah timur tengah. Mungkin dia imigran atau blasteran timteng-perancis, entahlah, yang jelas good looking. Hehee

“Assalaam…” pak polisi menyapa pemilik toko.

Saya lumayan kaget. Saya tidak tahu apakah Pak polisi ini Islam atau dia hanya menghargai pemilik toko yang kemungkinan besar beragama Islam. Yang jelas ada kelegaan di hati saya ketika bertemu saudara seiman. Kemudian polisi ini ngobrol dengan pemilik toko dalam bahasa perancis.

“Kamu akan dibantu oleh dia, saya tidak bisa berlama-lama disini, karena harus kembali bertugas di jalan” ucap pak polisi kepada saya.

“terimakasih banyak pak” jawab saya.

“Ok, hati-hati” kemudian pak polisi pergi keluar toko meniggalkan saya dengan pemilik toko.

“!@#$%^&*!@#$%^&” pemilik toko coba mengajak ngobrol saya dalam bahasa perancis. Saya cuma bisa melongo.

“I’m sorry, I can’t speak French” cepat-cepat saya potong sebelum dia berbicara panjang lebar.

Gantian dia yang bengong, ternyata dia ga ngerti bahasa Inggris.
“Waduhhh gimana ini???”

 

Dengan bahasa isyarat dia meminta saya mengikuti dia keluar toko dan masuk ke toko sebelah, rumah makan Thailand lebih tepatnya. Dia mengobrol dengan salah satu pegawai laki-laki dalam bahasa Perancis, dan mengenalkannya kepada saya, namanya Danny. Kemudian laki-laki berwajah timur tengah ini pamit dan kembali ke tokonya.

Alhamdulillaah ternyata Danny bisa berbahasa Inggris.

“Di sekitar sini memang ga ada hostel yang harganya 20-30 euro” Danny menjelaskan.

“Iyaaa…tapi uang saya ga cukup” ujar saya dengan wajah hopeless.

Tentu saja saya sudah mengalokasikan dana emergency untuk hal-hal yang tidak terduga semacam ini. Tapi saya tidak ingin menggunakannya sekarang, perjalanan masih panjang. Saya harus berusaha dulu sampai mentok.

“Hmm gimana ya?” gumam Danny sambil melayani pembeli yang datang.

Meskipun sederhana, rumah makan ini terbilang laris. Mulai dari saya masuk pembeli tidak berhenti datang, dan mereka bukan orang Asia. Mungkin parisian tersebut bosan dengan masakan perancis.

Saya dengan sabarnya berdiri menunggu.

Kemudian Danny menghampiri saya: “saya punya beberapa teman dari Indonesia, saya coba telp salah satunya, mungkin dia bisa bantu”. Sejurus kemudian dia mengeluarkan iPhone-nya. Setelah mengobrol sebentar dengan orang yang ada di ujung telp sana, dia memberikan iPhone-nya kepada saya. Terdengar suara bapak-bapak berbahasa Indonesia. Mengobrol dengan orang yang memiliki bahasa ibu yang sama di saat kondisi seperti ini lumayan bisa menenangkan saya meskipun jawabannya sama dengan yang lain, tidak ada hostel semurah itu dekat sini. Posisi dia sekarangpun lumayan jauh dari tempat saya berada saat itu. Dia pun meminta maaf karena tidak bisa membantu banyak, dan sayapun mengucapkan terimakasih.

Sepertinya Danny menangkap ekspresi muka saya yang makin hopeless.

“Hmm…gimana ya? Sementara saya melayani pembeli sambil cari jalan keluar, kamu duduk aja dulu ya” Danny coba menenangkan.

 

Saya hanya mengangguk dan berjalan pasrah lalu memilih duduk di kursi pembeli yang disediakan di luar. Tadinya sambil menunggu Danny, saya ingin memesan makanan mengingat perut saya sudah membunyikan alarm minta dipenuhi haknya. Terlebih menu yang disediakan adalah menu khas Asia, nasi goreng, ikan bumbu cabe, dll yang dipajang sedemikian menggiurkannya di etalase. Setiap wadah makanan diberikan name tag sesuai makanan yang disajikan di wadah tersebut. Namun, saya langsung mengurungkan niat untuk memesan makanan ketika mata saya berhenti di wadah makanan dengan name tag “pork”. Saya memang tidak akan memesan pork, itu pasti. Saya hanya berhati-hati khawatir jika nasi goreng yang disajikan dimasak dengan wajan yang sama untuk memasak pork tersebut, bisa jadi masih ada minyak yang tertinggal. Saya hanya berusaha jangan sampai ada makanan yang terkontaminasi oleh sesuatu yang jelas-jelas diharamkan oleh-Nya masuk ke perut saya. Akhirnya saya hanya bisa berdo’a semoga segera datang pertolongan-Nya.

Saya kembali melirik jam, hampir jam 9.00 pm waktu paris (matahari mulai merangkak ke ufuk barat karena ini musim panas). Tak lama kemudian, Danny pun datang.

“Saya ada teman, tadi saya sudah menelponnya. Apartemennya ada di seberang sana. Dia memperbolehkan kamu buat menginap di sana, tapi kamu harus bayar 25 euro.”

“Hmm…” saya agak ragu.

“Tenang, teman saya itu perempuan. Meskipun saya bukan muslim, saya sedikitnya tahu ko tentang Islam, saya juga punya teman perempuan orang Indonesia yang menggunakan penutup kepala seperti kamu,” sambil menunjuk jilbab saya. “Jadi, saya tidak mungkin menitipkan kamu ke teman laki-laki saya”

Saya cukup kaget dan terharu.

Dannypun melanjutkan: “Dari awal saya lihat kamu, saya yakin kamu orang baik, makanya saya mau nolongin kamu. Saya juga yakin kamu bisa bersikap baik sama teman saya ini. Dan saya harap kamu tidak mengecewakan saya.”

Saya sampai speechless mendengar penuturan Danny. Saya hanya bisa mengangguk tanda terimakasih yang tidak sanggup saya ucapkan.

“Alhamdulillaahirobbil’aalamiin, makasih ya yaa Alloh” ucap saya dalam hati.

 

Kemudian Danny mengajak saya berjalan menuju apartemen temannya yang ada di seberang jalan.  Danny menjelaskan bahwa temannya ini bukan orang perancis tapi sudah puluhan tahun tinggal di Paris, dan dia hanya bisa sedikit berbahasa Inggris. Tak lama kamipun sampai di depan sebuah pintu gerbang yang sedang dibukakan oleh seseorang. Muncullah sosok perempuan separuh baya, berperawakan agak gemuk dan tersenyum ramah kepada kami yang tak lain adalah teman baiknya Danny, Brigitte namanya. Kamipun dipersilahkan masuk ke dalam apartemennya yang lumayan sederhana untuk ukuran kota Paris. Brigitte menunjukkan kamar tidur untuk saya yang ternyata itu adalah kamarnya. Sedangkan dia nanti akan tidur di kamar yang lain. Setelah mengobrol sebentar dan saya menyerahkan uang sewa kepada Brigitte, Danny pun pamit.

“Danny, saya ga tahu harus gimana berterimakasih sama kamu. Kamu baik banget, sudah mau repot-repot nolong saya. Ini kenang-kenangan dari saya yang ga berharga dan mungkin sangat biasa buat kamu yang tinggal disini” ucap saya sambil menyerahkan souvenir berbentuk menara Eiffel yang pastinya sudah sangat biasa buat dia yang sudah puluhan tahun tinggal di Paris.

“Kamu ga perlu ngasih apa-apa ke saya, ini kamu bawa pulang aja ke Indonesia. Pertolongan ini datangnya dari Tuhan, saya hanya perantara saja. Mungkin sekarang dewi fortuna sedang menaungimu” Jawab Danny tulus.

Saya tetap bersikeras agar Danny mau menerima souvenir tersebut yang harganya tidak seberapa dibanding kebaikannya. Akhirnya Danny pun menyerah dan mau menerimanya. Kemudian saya mengantarnya sampai pintu gerbang.

“Kalau suatu hari nanti kamu ke Paris lagi, jangan lupa untuk mampir ke tempat saya”.

“Semoga saya bisa kembali lagi ke Paris dan pasti saya akan mampir ke tempat kamu”.

“OK, sampai jumpa lagi, dan jaga diri kamu”

“terimakasih banyak Danny atas bantuannya, hanya Tuhan yang bisa membalasnya”

 

Kemudian saya mengunci kembali pintu gerbang dan kembali masuk ke apartemen Brigitte. Karena saya sedang tidak sholat dari semenjak zhuhur, maka setelah mandi dan beres-beres, saya langsung menuruni tangga menemui Brigitte di ruangan bawah tanah.  Meskipun tidak terlalu luas tapi saya tidak merasakan kalau saya sedang berada di ruangan bawah tanah karena penataan dan sirkulasi udara yang baik. Saya jadi bertanya-tanya apakah setiap rumah di Paris punya ruangan di bawah tanah, dan senyaman ruangan di “atas tanah”, entahlah. Ruangan ini terdiri dari mesin jahit, dapur, meja makan, dan kamar mandi.

Brigitte pun menyapa saya: “Hey, saya lagi siapkan air panas buat kamu”

“Terimakasih banyak, kebetulan saya memang butuh air panas untuk sup instan yang saya bawa. Ayo kita makan malam bareng” ajak saya.

“Terimakasih, tapi saya sudah makan”

Dia menawarkan baguette, roti panjang khas Perancis sebagai teman makan sup. Sayapun mengucapkan terimakasih dan menolak dengan sopan. Bukan apa-apa, kebetulan persediaan roti saya masih ada, kalau tidak segera dihabiskan takut keburu expired.

Kamipun ngobrol-ngobrol meskipun dengan bahasa Inggris seadanya. Brigitte sempat mengajarkan saya beberapa kalimat dalam bahasa Perancis dengan aksen dengung yang khas yang memang sulit saya lafalkan. Ketika Brigitte mengatakan asalnya dari Mauritania, otak saya langsung loading…dan tidak berhasil menemukan di bagian dunia sebelah mana mauritania itu berada. Ma’lumlah pengetahuan geografi saya jelek, hehee…belakangan saya tahu kalau ternyata Mauritania itu terletak di bagian barat laut Afrika.
Brigitte adalah seorang ibu dari 2 orang anak, laki-laki dan perempuan. Saya tidak tahu apakah dia ini seorang single parent atau bukan, selama kami ngobrol dia tidak pernah menyinggung suaminya, dan sayapun tidak berani bertanya. Saya cukup salut dengan perjuangannya menghidupi anak-anaknya dengan bekerja sebagai penjahit dan penjaga apartemen. Anak pertamanya laki-laki, setelah menyelesaikan studynya di Amerika, dengan bantuan beasiswa, sekarang sudah berkeluarga dan menetap di Amerika. Sedangkan anak perempuannya sedang kuliah di perancis, saya lupa tepatnya dimana, yang jelas dia mengambil jurusan Biologi. Dia menunjukkan foto anak-anaknya dengan antusias.

“Oiya, sebentar saya telp putri saya dulu, biar kamu bisa kenalan sama dia. Dia bisa berbicara bahasa Inggris lebih lancar daripada saya”

“Ok. Silahkan” ujar saya sambil tersenyum.

Kemudian sayapun mengobrol sebentar lewat telp dengan anak perempuannya yang lumayan seru dan ramah. Selesai mengobrol dengan putrinya, Brigitte menunjukkan baju hasil jahitannya. Jahitannya rapi, bahan dan model bajunya juga bagus. Yahhh…ga heranlah sama kualitas tukang jahitnya Paris. Tak jarang juga dia menerima order untuk pertunjukan theater dan semacamnya.

Sebelum pamit tidur, saya sempat meminjam iMac-nya untuk memindahkan foto-foto di kamera ke flashdisc karena saking narsisnya, memory kamera saya sudah hampir full.hehee

 

Tepat jam 4 pagi waktu paris saya dikagetkan dengan bunyi alarm HP saya, refleks tangan ini menyentuh option “snooze” pada layar HP. Butuh waktu 15 menit untuk “ngumpulin nyawa”, baru kemudian saya mandi. Selesai mandi, di meja makan telah tersedia 2 cangkir teh hangat yang telah disiapkan oleh Brigitte.

“Ayo diminum tehnya, ini teh khas Mauritania” ajak Brigitte sambil menunjukkan kemasan teh tersebut.

Sambil menikmati teh hangat dan roti, kamipun bertukar alamat, alamat di dunia nyata maupun dunia maya. Sambil bersiap-siap untuk pergi saya berulang-ulang mengucapkan terimakasih kepada Brigitte atas pertolongan, kebaikan dan keakraban yang dia berikan.

“Au revoir Brigitte…j’espѐre qu’un jour je peux y revenir, merci beaucoup” -sampai jumpa lagi Brigitte, semoga suatu hari bisa kesini lagi, terimakasih banyak- ucap saya kepada Brigitte.

“De rien, au revoir..Et soit prudent” –sama-sama, sampai jumpa lagi, hati-hati ya- balas Brigitte.

Kemudian sayapun berjalan menuju arah coach parking lot, tempat “mangkalnya” Beauvais Airport Bus. Saat melintasi resto thailand tempat Danny bekerja saya berujar dalam hati:

“Makasih banyak Danny, semoga saya bisa ke Paris lagi dan mampir kesini ke Boulevard Pershing, aamiin”

Banyak hikmah yang bisa saya ambil dari perjalanan ini, salahsatunya yang pernah dikatakan oleh imam Syafi’i:

Orang Berilmu dan Beradab Tidak Akan Diam di Kampung Halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan mendapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang

Singa jika diam tak akan dapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari diorbitnya dan tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

             Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

 

Alhamdulillaah…Jam 7 pagi sampailah saya di Beauvais Airport, bandara kecil –karena hanya ada 2 terminal- yang berlokasi di Tille, Beauvais sekitar 80 km dari Paris. Bandara ini memang khusus melayani low-cost airlines yang sangat digemari para backpacker yang ingin melakukan in budget eurotrip. Sayapun bergegas check in untuk flight jam 8.45 menuju Barcelona.

Au revoir Paris :D

Au revoir Paris :D

Depok, 24 April 2013
17.35

19 thoughts on “Ngebolang di Paris (Part 2)

  1. Aaaak…. kok kece…. :)) akhirnya dia melanjutkan ceritanya :D danny ini kok baik sih :”). Btw jam 9 PM masih terang kah di sana? is it safe buat jalan2 menggelandang di paris centre sampe jam 5 pagi? :D

    • heheee…lamaaa kali ya aku posting lanjutannya, hee
      iya aku aja heran mba, danny baik bngt…padahal baru kenal :)
      Alloh itu emang Maha Baik :)
      waduhhh aku sih ga recommend mba yg kece ini ngebolang ampe jam 5 pagi, aku ga tau safe apa engga…
      aku sih prefer istirahat bwt ke BCN bsok paginya…mba jg sama kan ya flight ke BCN jam 8.45
      emang sih cm sehari di Paris, ga cukup banget, hehee :D

  2. Wah….terharu baca ceritanya karena alhamdulillah kmu masih dipertemukan ama orang yang baik selama di Paris. Ricky juga ngalamin hal yang bikin galau pas di Paris waktu ngejar TGV dan hampir ketinggalan ditambah koper yang rusak… Tapi pengalaman yang ga enak itu justru ga akan bisa dilupakan.
    J’espere qu’un jour on peut revenir a Paris, ya La! :)

  3. Lagi browsing nyasar ke blog ini. Ceritanya bikin dag dig dug (:p) dan terharu… Jadi mematik smangat mengejar mimpi yang sudah lama redup :p
    Salam kenal ya.. Ditunggu cerita selanjuntnya. Masih ada berapa kota ya?? :o

  4. ah Ella aku baru baca yg part 2 ini. Pertolongan Alloh memang selalu ada ya dan untuk kasusmu, perantaranya pak polisi, Danny, dan bu Brigitte.

    Cerita kamu lumayan menenangkan buat aku yg agak perno mau extend ke Paris sendirian. Thanks for your stories :D

  5. Hay Ella…salam kenal ya…
    Ellaaaa…cerita kamu isnpire banget :D
    mana dong cerita Barcelon nya… gak sabar mau baca petualanganmu selanjutnya..
    Ditunggu ya ella secepatnya dong… hehehee
    Veel Succes Ella!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s